@Dulu Galau sekarang Lebay
Temanku yang lama
tak berjumpa, tanya tentang facebook
aku, ( sekarang gak punya Fb aku mah, emang
masih musim yah Fb? Jawab dan tanyaku),
Kalau instagram ? ( aku gak punya juga, aku bukan artis or seleb, yang selalu update foto tentang cerita atau apapun yang dilakukan, gak penting banget kalau orang biasa seperti aku harus seperti itu, jawabku),
Punya twiiter gak ?), (gak punya juga, jawabku lagi, merasa gak layak untuk difollow orang, bukan siapa-siapa akumah),
Euleuh..euleuh meni kudate , kuper geuning,
aku hanya tertawa, dan coba jelaskan alasanku gak punya aneka sosmed itu, yang
katanya cermin dari orang-orang yg kekinian .
Aku
memang pernah punya Fb, tapi hampir 3 tahun lalu, sudah aku tutup, aku merasa
gak nyaman saja dan mungkin akunya kurang pas juga bagi yang lain, karena
account aku gak seperti account Fb pada umumnya, aku kurang begitu suka upload
foto atau sharing hal-hal yang pribadi seperti yang lain, aku lebih suka upload
lukisan, gambar, sketsa, quotes dan tulisan/notes aku,
Sayangnya (meski mungkin hanya perasaanku ),
orang-orang yang ada di lingkaran Fbku saat itu bagiku kurang apresiatif, kebanyakan
mereka lebih tertarik dengan hal-hal pribadi, yang akhirnya kadang tidak
membawa kebaikan, menularkan keburukan, berujung
menjadi hal yang tidak menyenangkan dan akhirnya membuatku merasa tidak nyaman.
Lagian Fb, berdasarkan
pengalamanku, kadang hanya jadi ajang show off, selfie dan narsis para
penggunanya saja, yang punya pasangan pamer mulu foto mesra dengan pasangannya,
emak-emak eeh.., maksudku ibu-ibu pamer tumbuh
kembang dan prestasi anak-anaknya (pencitraan
keluarga sukses dan bahagia) , yang galau update status galaunya , yang
liburan pamer terus foto” liburannya takut kalah dengan traveler lainnya ( bikin ngiri bagi orang yang waktu dan keuangannya
terbatas, bikin sedih bagi orang yang buat makan dan kebutuhan sehari-hari aja
susah boro-boro punya uang buat liburan ), yg abg pamer foto selfinya
dengan mimik muka aneh-aneh, “menggelikan” dalam tanda kutip.
Jarang sekali kutemui
yang apresiatif terhadap seni, alam atau lingkungan, susah kutemukan sosok yang
kesehariannya menggambarkan kepedulian dan berbagi kebaikan dengan sesama,
padahal hal yang seperti itu tidak termasuk show off atau riya bagiku, justru
menginsiprasi agar akupun bisa seperti mereka, karena bagiku setiap orang atau
individu boleh dan bisa saja jadi inspirator atau motivator bagi yang lainnya dalam
berbagi kebaikan, mereka yang usil dan keberatan dengan hal
seperti ini ya biasanya sih orang-orang seperti yang aku sebutkan sebelumnya di
atas, yang hobby pamer hal pribadi yang gak penting itu, tapi ya sudahlah mungkin akunya saja yang
memang gak pas untuk ada di sosmed itu… sorry
no offense
Jadi Fbku, aku
tutup saja, (too much lie in that
place..for me), biarlah mereka terus beraksi di Fb sesukanya, aku yg bodoh seperti ini memang gak pantas ada dalam lingkaran mereka, dan mereka pun pastinya semakin nyaman untuk berinteraksi sesuka mereka, meski sedih juga merasa bersalah juga karena tidak bisa lagi berinteraksi dan komunikasi dengan beberapa teman yg apresiatif,... tapi biarlah aku mah disini saja gak papa, dan kalau tentang sosmed yang lainnya yang temanku tanya, aku gak pernah
punya, jadi aku gak tau kehidupan disana itu bagaimana,..no comment..
Only here and my blogs
Saat ini aku cuma
aktif di Google+ dan blog-blog aku, disini aku bisa share hal yang pernah aku bagi di Fb dulu dengan lebih
nyaman,
( karena meski aku publish, commentnya
aku tutup karena aku trauma, kalau-kalau ada orang yang koment tanpa etika
seperti yang pernah aku temui di medsos yang pernah aku ikuti sebelumnya, untuk
yang koment dan butuh penjelasan yang berkaitan dengan tulisan di blogku bisa
kok by email ).
Mungkin caraku ini
kurang simpatik bagi sebagian followerku di G+ dan juga pengunjung blog aku,
tapi sampai saat ini cara inilah yang membuatku nyaman, untuk hal atau tulisan
yang bersifat pegetahuan dan keilmuan masih bisa share dan koment kok,
Alasan lainnya, blog
dan G+ lebih pas bagiku, karena biasanya pengunjung blog adalah orang-orang
yang suka membaca, dan butuh jawaban atas hal yang ingin mereka tahu, senang
sekali bila ternyata tulisan atauhal yang aku share bisa ikut membantu, di G+
ini memang orang-orangnya tidak seaktif seperti di sosmed lainnya, ( mungkin karena disini butuh kuota, gak ada
yang gratisan (free basic) .. hehe, dan yang pasti aturannya disini juga cukup
ketat, gak semua orang paham juga aplikasi sosmed ini, lebih pas untuk para
bloger ),
Tapi yang paling
aku respect disini adalah karena hal-hal yang di-share atau link-linknya itu
bermanfaat, gak ada yang selfi atau yang hobby narciss disini, karena umumnya seperti
juga aku, mereka atau komunitas yang aktif di G+ adalah para bloger, yang
berbagi karya dan tulisan, dan biasanya menuliskan hal-hal pribadi seperti itu
di blog-blog mereka, cukup dengan men-share linknya saja,
dengan cara seperti itu tentunya gak akan mengotori halaman orang lain dengan
foto-foto selfie, narsisme, foto liburan dan cerita kehidupan pribadi
mereka,
Temanku pun ngerti alasanku dan bahkan membenarkan, ( padahal dia tuh ganteng, tinggi, berkulit cerah dan bersih, pokoknya pas lah buat jadi objek foto, tapi dia ternyata gak suka narsis or selfie, menyenangkan sekali ternyata masih ada yang sependapat dan sepemikaran ), karena dia juga alami hal
yang kadang menyebalkan di sosmed yang diikutinya, yah mungkin ini juga dialami
oleh pengguna sosmed lainnya, yaitu adanya orang yang suka showoff tentang
hal-hal pribadinya, dan yang paling menyebalkan katanya adalah adanya “pasangan
yg lebay”, pasangan yang rajin upload selfie dan narciss, selalu ingin umum
tahu dimana dan apa yang mereka lakukan,..
Emang
lebay sih, kalau hal itu jadi bikin enek, itu sih gampang karena setau aku kan
bisa di hidden apa yang mereka publish, atau kalau tega ya kick them off from
your circle saja, dari pada merasa
terganggu dengan hal lebay yang gak
penting seperti itu, saranku padanya, … (sadis yah.., saranku !!)
Btw,
ngomong-ngomong tentang pasangan yang lebay di sosmed terutama di Fb, berikut
tulisan dari blog-blog yang pernah aku baca berkaitan dengan hal itu, bukan
bermaksud usil, hanya ingin sekedar berbagi dan mengingatkan, karena apa yang yang
menjadi hak kita di social media itu, dibatasi juga dengan kewajiban kita
terhadap kenyamanan yang lainnya…. no offense,
Kenapa
harus pamer yah, yang lainnya gak, tanpa dipamerkan, sebenernya orang sudah
tahu kok kalo mereka udah nikah.
Kalo
orang suka lebay pamer kemesraan sehabis nikah biasanya :
1. Lama ga punya
pacar atau lama pengin banget dinikahin, tapi lama baru ketemu jodohnya.
2. Ada sesuatu yang
pengin dia tunjukin kepada orang lain bahwa dia sekarang udah bahagia, mungkin
pada mantannya, mungkin pada saingannya, mungkin juga pada temen2 yang (menurut
perasaannya) pernah mengejeknya.
3. Mungkin dia
sebenernya tengah menegaskan pada dirinya sendiri, bahwa “gue bahagia, gue nggak salah pilih, gue ini dicintai” Soalnya dia
sendiri sebenernya kurang yakin pada proses cintanya sebelum sampai ke
pernikahan.
Itu
cuma analisa lho .. mungkin bisa saja salah, bisa juga salah bangeeeetttt… I
Ini
tulisannya benar sekali! Ahhhh… kalau mau umbar, umbar aja semuanya sekalian,
padahal jadi gak bias antara dia bahagiakah atau pamer guy
(@jmv: itu
tulisan/pendapat orang diinternet yang aku baca..., bukan pendapat aku, tapi
mungkin ada benarnya juga sih.., tapi kayaknya emang gak salah.. deh ??..)
Faktor lainnya
pasangan yang sering mengunggah foto mesra di sosial media adalah karena pernah
memiliki masa lalu yang mengecewakan, oleh karena itu untuk merayakan
kesyukuran dan kebahagiaan yang dirasakan saat ini diungkapkanlah dengan
mengunggah foto mesra bersama pasangan.
Alasan lainnya :
Merasa cemas dengan
hubungan asmaranya sendiri.
Penelitian yang
dilakukan oleh Personality and Social Psychology menemukan bahwa seseorang yang
suka mengumbar foto kemesraan di sosial media sebenarnya sedang merasa tidak
aman dengan hubungan asmaranya. Nah, mengunggah foto bareng pasangan di sosmed
bisa menjadi salah satu hiburan yang dapat menenangkan perasaannya.
Trauma akan masa
lalu.
Dulu hubungan
asmaranya dengan si mantan tidak berjalan lancar. Tapi disaat ia tengah putus
asa, ternyata ada orang lain yang lebih mencintainya muncul, jadi untuk
mengungkapkan kebahagiaanya, orang-orang yang trauma akan masa lalunya ini akan
lebih sering update atau unggah foto mesra bareng pasangan di sosial media.
Suka cari
perhatian.
Pasangan
yang seperti ini biasanya sangat suka bila foto atau statusnya mendapatkan
banyak komentar, like, atau love. Mereka menganggap dirinya telah berhasil
menjadi “role model” bagi pasangan lainnya.
Balas dendam.
Sebelum
mendapatkan pasangan biasanya hanya menikmati foto-foto mesra si mantan sama
pasangan barunya. Nah, saat sudah menemukan pujaan hati yang baru, maka inilah
saatnya balas dendam. Tentu menjadi kepuasaan tersendiri ketika bisa memamerkan
pasangan ke mantan yang masih berteman di sosial media, kan?
Tetapi sebenarnya
kita tidak perlu iri kok, sebab pamer kemesraan di jejaring sosial seperti ini
ternyata tidak membuktikan kalau pasangan tersebut bahagia. Justru sebaliknya,
orang cenderung 'mempertontonkan' hubungan di depan publik saat mereka tidak
benar-benar yakin dengan perasaan pasangan.
Hal ini dibuktikan
oleh sebuah studi yang dilakukan oleh Social Psychology Bulletin. Dilansir
situs Real Simple, Lydia Emery dari Northwestern University melakukan survei
terhadap 108 pasangan di Kanada. Setiap responden membuat catatan harian
mengenai kehidupan pribadi masing-masing.
Ketika catatan
harian responden dibandingkan dengan aktivitas mereka di Facebook, para
responden lebih sering memperbarui status, foto, atau pos yang berkaitan dengan
pasangan mereka saat merasa galau dengan hubungan mereka.
Hasil pengamatan
para analis menunjukkan kalau Facebook merupakan ajang untuk berpura-pura.
Penelitian dari Aalto University, Finlandia membuktikan kalau orang cenderung
memasang foto atau profil yang tidak seperti keadaan sebenarnya, untuk memenuhi
ekspektasi sosial dan menjaga reputasi di jejaring sosial. Sementara penelitian
Albright College menemukan kalau para pasangan menggunakan Facebook untuk
memantau aktivitas pasangan dan memastikan kalau hubungan mereka baik-baik
saja.
Di sisi lain, kita
juga harus berpikir. Untuk apa sih mengumbar kemesraan di dunia maya? Agar
semua orang tahu kalau kita sayang banget sama suami/istri? Ingin semua orang
tahu kalau kita adalah suami/istri yang baik? Lalu setelah semua orang tahu,
apa manfaatnya bagi kita?
Bukankah sebaiknya
kemesraan itu lebih kita maksimalkan dalam bentuk kasih sayang di rumah,
sementara di luar rumah jangan pula terlalu banyak mengumbar kemesraan. MEMANG
SUDAH HALAL, namun TIDAK AHSAN alias GAK BAIK bro n sist.. Bukankah kemesraan
itu selayaknya tidak jadi bahan konsumsi umum. Iya kalau bener-bener seperti
itu. Kalau ternyata hanya untuk menutupi kekacauan yang ada di rumah tangga,
lalu terbongkar aslinya maka akan lebih memalukan lagi.
Tidakkah cukup
suami/istri kita saja yang merasakan kasih sayang dan mengakuinya. Tak perlulah
berkoar-koar di jejaring sosial. Sama tak perlunya juga menuliskan aktifitas
keseharian di facebook.
Kita boleh bilang ”status, status gue, foto gue, nulis di
facebook gue, kenapa elu yang sewot?”
Maka orang lain-pun
juga bisa bilang “ facebook, facebook
gue, gue yang baca sendiri, kenapa status/foto elo yang norak mampir di
facebook gue.. gak penting banget.. gue unfriend ajalah..”
Teman, kita juga
perlu untuk bertoleransi di dunia maya. Tidak perlulah terlalu sering menulis
status-status yang mengumbar kemesraan , komen-komen yang genit dan menggoda,
juga kalau bisa hindari upload foto-foto kemesraan dengan pasangan.
Yah..,ketika
mengumbar kemesraan dengan pasangan yang halal saja perlu berhati-hati, apatah
lagi kemesraan dengan yang tidak halal, ??
Sefie dan narsisme
itu menular ??

Psikolog dari
Psikodista Banda Aceh, Dra (Psi) Nurjanah Nitura MPd menyatakan, kecenderungan
narsisme ada pada setiap orang. Namun, dengan perkembangan media sosial saat
ini, narsisme tersebut bisa meningkat bahkan ‘menular’ kepada orang lain.
“Selfie
telah menjadi tren saat ini. Apalagi dengan adanya media sosial yang
mengakomodir kebutuhan penggunanya, sehingga perilaku selfie bisa menular
kepada pengguna lainnya,” kata Nurjanah menjawab Serambi via telepon di Banda
Aceh, Senin (18/4)
Bahkan di kalangan remaja
saat ini, katanya, orang yang tidak melakukan selfie dianggap ketinggalan
zaman. Menurut Nurjanah, masalah yang melanda pelaku selfie ialah memudarnya
nilai karakter seseorang, sebab tren selfie yang dilakukan itu kerap tidak
mengenal tempat dan waktu. “Pada even berduka, misalnya, orang tak malu
berselfie di pemakaman, kecelakaan lalu lintas, atau bencana lainnya. Hal
tersebut tentu tak etis dilakukan,” ulas Nurjanah.
Selain itu,
katanya, seseorang sering tidak cermat dalam memperhitungkan faktor safety
(keselamatan), demi mengejar popularitas di dunia maya… dst
@just
my view
Mungkin benar selfie
dan narsis itu menular, karena orang yang aku tau dulu gak suka selfie atau narsis,
tapi sekarang karena pasangan atau
lingkungannnya hobby selfie dan narsis jadi ikutan juga, ( illfeel dan juga enek, kalau ingat komitmennya dulu)
Memanfaatkan media
social untuk hal-hal yang berguna bagi banyak orang atau bahkan untuk
kepentingan wira usaha yang kita jalankan,
bagiku itu lebih baik dan bijak, tidak menutup kemungkinan suatu saat
nanti akupun aktif di medsos tersebut untuk kepentingan wira usahaku, bukan
untuk show off hal pribadi aku pastinya, tapi untuk saat ini cukup Web, email, Wa,
BB dan sms/hp saja untuk komunikasi dan
hal lainnya.
Tapi, apapun itu,
sefie, narsis, show off, atau sosmed apapun yang diikuti, itu adalah hak
masing-masing orang, dan tulisan-tulisan di atas tentang hal tersebut, pastinya
hanya ingin mengingatkan , tidak
bermaksud menyudutkan, apalagi menyalahkan, tapi kita semestinya paham, bahwa raport kehidupan kita di dunia ini dimata Allah tidak ditentukan oleh apa saja sosmed yang kita ikuti, atau seberapa banyak tempat wisata yang telah kita datangi, tidak ditentukan pula oleh sekeren apa foto-foto yang telah kita upload di sosmed, tapi tentang seberapa banyak amal dan kebaikan kita.
Semoga saja aku,
kamu, dia dan kita semua bisa mensikapi dan memahaminya dengan lebih arif dan
bijaksana, don’t be offended, aku tidak mungkin menggunakan
“dalil-dalil” atau pun hadist yang berkaitan dengan hal seperti ini, karena akupun sangat jauh
dari kesempurnaan, aku hanya baru bisa merubah cara berpakain atau penampilan
luarku saja, dan aku tetap hanyalah seorang manusia bodoh yang masih perlu
banyak belajar dan terus belajar.
Semoga
bisa dipahami dengan senyuman…
hp@just
myview - just stupid person
in the middle of nowhere.160916